Selasa, 27 Januari 2015

Dunia Anna, Jostein Gaarder (agak spoiler)

Judul: Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta
Pengarang: Jostein Gaarder
Halaman: 244 halaman isi
Penerbit: PT. Mizan Pustaka
Alih Bahasa: Irwan Syahrir
ISBN: 978-979-433-842-1

2082, kurang dari 70 tahun sejak saat ini dan dunia sudah di ambang kepunahan. Pemanasan global, pemakaian dan eksploitasi bahan bakar minyak besar-besaran, dan kerusakan alam membuat punahnya keanekaragaman hayati yang saat ini masih dapat kita lihat di muka bumi ini. Nova, seorang gadis yang berusia 16 tahun merasa sangat sedih dan marah dengan semua kerusakan yang ada di bumi ini, dan ia meminta kepada Anna, nenek buyutnya, untuk mengembalikan dunia ini seperti semula, seperti ketika sang nenek masih berusia 16 tahun sama seperti dirinya.
Membaca beberapa buku dari Gaarder seperti Dunia Sofie, Perpustakaan Bibbi Boken, Gadis Jeruk, lalu Dunia Anna ini, membuat saya melihat bahwa Gaarder selalu membawakan ceritanya dengan plot dan tokoh-tokoh yang begitu sederhana. Dalam Dunia Anna ini hanya ada Anna dan Nova yang sama-sama gadis remaja, dan Jonas, kekasih Anna yang banyak diceritakan. Tetapi Gaarder selalu tidak sederhana dalam mengisi pemikiran tokoh-tokoh di dalamnya. Sama seperti buku-bukunya yang lain, dalam Dunia Anna ini, Gaarder mengajak kita untuk berpikir mengenai perubahan iklim dan kehidupan yang saat ini kita alami sebagai umat manusia di dunia ini.
Anna dan Nova sama-sama gelisah dengan dunia yang berada di ambang kematian. Anna yang berada di awal tahun 2000-an masih mendapatkan keistimewaan yang tidak didapatkan oleh Anna yang hidup di tahun 2082. Nova tidak lagi dapat menemui hewan-hewan dan tanaman yang sekarang kita nikmati, manusia sudah menyusut hanya berjumlah kurang dari 1 milyar karena benacana alam dan kelaparan. Ada banyak pengungsi iklim karena negara-negara mereka tidak lagi dapat dihuni karena menjadi begitu panas dan kering. Kebun binatang pun hanya menjadi sebuah area dengan hewan dan tanaman hologram. Dan mereka berdua sama-sama ingin memperbaiki kondisi itu sejak saat ini, hingga generasi di mana Nova hidup kelak tidak harus menerima akibat dari ketamakan dan kerakusan generasi kita dalam menghabiskan energi.
Kenapa saya bilang ini spoiler, karena ceritanya ya hanya begitu saja. Usaha kedua orang ini dalam memperbaiki dunia, yang menjadi istimewa adalah pemikiran-pemikiran Gaarder yang diisikan dalam argumen-argumen dan banyak artikel-artikel yang dituliskan yang berbicara mengenai pemanasan global, penggunaan energi, dan perubahan iklim yang terjadi saat ini. Gaarder juga berbicara tentang berbagai sifat-sifat manusia yang membuat perubahan iklim ini menjadi suatu isu nyata tetapi terus menerus disangkal oleh banyak pihak karena banyaknya uang yang berputar di dalamnya.

“Sifat manusia ditandai dengan sebuah kemampuan memandang secara horizontal terus menerus. Kita senantiasa menjelajah dengan pandangan kita dan mencari berbagai kemungkinan bahaya dan peluang. Dengan begitulah kita secara alami dapat mempertahankan diri dan orang-orang yang kita sayangi. Tapi, kita tidak memiliki kemampuan alamiah yang sama untuk melindungi generasi sesudah kita, apalagi melindungi spesies lain di luar spesies kita sendiri. … melindungi gen kita sendiri dalam empat atau delapan generasi adalah sesuatu yang harus kita pelajari.” (156)

Saya memiliki ketakutan yang mirip dengan ketakutan yang dimiliki Anna. Anna menceritakan bahwa dirinya memiliki ketakutan akan pemanasan global pada Benjamin, psikiaternya, saya juga takut bahwa suatu hari nanti bumi ini akan kehabisan sumber dayanya untuk menopang kehidupan. Gaarder dalam buku ini juga menggambarkan bahwa hal itu akan terjadi jika kita menggunakan sumber daya yang ada sekarang tanpa memikirkan generasi selanjutnya. Tidak ada lagi minyak bumi, orang-orang kembali menaiki unta untuk melakukan perjalanan. Tidak ada lagi bahan bakar dan orang-orang kembali menebang pohon secara manual.

“Sebagai primata yang suka bermain-main, inventif, dan berlebihan, kita mudah sekali lupa bahwa pada dasarnya kita adalah bagian dari alam. Namun, apakah kita begitu sukanya bermain-main hingga mendahulukannya di atas tanggung jawab pada masa depan planet ini?” (157)


Buat saya plot yang sederhana dari novel ini membuat kita bisa lebih berfokus dalam melihat dan mengeksplorasi pemikiran-pemikiran Gaarder dalam memandang perubahan iklim yang terjadi di dunia ini. Gaarder mengajak kita untuk peduli dan sedikit menawakan solusi mengenai apa yang bisa kita lakukan dalam memberikan sedikit perubahan dan memberikan masa depan yang baik bagi generasi setelah kita tanpa melupakan sifat mendasar manusia. Mungkinkah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar