Selasa, 12 April 2016

Pendidikan Boneka

Judul: Pendidikan Boneka
Penulis: A. Supratiknya, dkk
Halaman: xi + 145
Penerbit: Sanata Dharma University Press

Tulisan ini tidak mau bicara mengenai apa isi dari buku Pendidikan Boneka itu sendiri, tetapi saya mau curhat mengenai proses pembuatan dari buku ini.

Sabtu, 04 April 2015

Membaca Peristiwa Mei 1998 dari Kaca Mata Fadli Zon

Judul:Politik Huru-Hara Mei 1998
Penulis:Fadli Zon
Penerbit:Institute for Policy Studies
Tahun:2004
Tebal:x + 172 halaman
ISBN:979-95388-4-X
Edisi:Cetakan VI, Mei 2004

Proyek penulisan jangka panjang yang sedang saya jalani saat ini adalah mengenai keadaan orang Cina yang ada di daerah saya pasca reformasi. Tema penulisan ini membuat saya jadi mengulik kembali permasalahan yang terjadi pada tahun 1998. Kala itu saya masih kelas enam SD. Saya tahu ada banyak kerusuhan yang terjadi di masa itu, tetapi saya tidak benar-benar memahami makna dan kegentingan yang terjadi saat itu. Mau tidak mau, proses penulisan ini membawa saya kembali ke masa itu dan menyusun kembali pemahaman saya mengenai peristiwa 1998 yang mengubah wajah Indonesia.
Mengapa 1998? Pada tahun itu terutama pada bulan Mei 1998, Indonesia dilanda kerusuhan besar yang mengakhiri rezim Orde Baru yang sudah berkuasa di bumi Indonesia ini selama 32 tahun. Awal baru di mana banyak perubahan di Indonesia kemudian terjadi. Salah satu buku yang menarik perhatian saya mengenai peristiwa 1998 adalah buku tulisan dari Fadli Zon yang berjudul Politik Huru-hara Mei 1998. Saya menemukan buku ini di salah satu perpustakaan kampus dan saya penasaran karena penulis buku ini adalah Fadli Zon, salah satu politisi Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subianto yang terkenal itu.
Selama masa pemilu tahun 2014 kemarin yang begitu riuhnya, nama Fadli Zon termasuk salah satu nama yang paling banyak muncul di media. Entah dalam rangka dukungannya kepada calon presiden yang diangkat Gerindra, saling sindir antara dirinya dengan partai lawan, sampai dengan puisi yang ditulis oleh dirinya. Fadli Zon menjadi begitu terkenal di masa-masa ini. Hal ini membuat saya menjadi tertarik untuk membaca bukunya ini.
Buku ini sendiri menceritakan tentang apa yang terjadi pada tahun 1998 itu dari sudut pandang Fadli Zon. Dalam kata pengantarnya, Fadli Zon dengan jelas menyatakan posisinya sebagai pihak yang memberikan klarifikasi dari buku yang sudah diterbitkan oleh Wiranto, Dari Catatan Wiranto: Bersaksi di Tengah Badai yang diterbitkan pada bulan April tahun 2003. Setahun sebelum buku kecil ini terbit. Dia beranggapan bahwa tulisan sebelumnya itu tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan dan kehilangan konteksnya (Zon, 2004: vii), dan melalui buku ini dia menyatakan ingin menceritakan kebenaran dari versinya, sebagai salah seorang saksi mata dan juga seorang yang berada di tengah putaran badai dalam peristiwa Mei 1998 tersebut.
Buku ini terdiri dari lima bab besar yang kemudian dibagi menjadi beberapa subbab lagi di dalamnya. Diawali dengan bagaimana kondisi ekonomi dan politik yang terjadi menjelang sampai pada pascaperistiwa Mei itu terjadi dan ditutup dengan bantahan yang diberikan Prabowo mengenai tuduhan yang ditujukan pada dirinya mengenai peristiwa 1998 tersebut.
Di sini saya malah kehilangan ketertarikan dan malah jadi meragukan apakah fakta-fakta yang dipaparkan di buku ini mengenai kejadian yang terjadi pada Mei 1998 itu benar-benar terjadi seperti apa yang dipaparkan dalam buku ini. Buku ini lebih terkesan sebagai kisah pembelaan dan kisah kepahlawanan dari Prabowo Subianto. Ya bukan berarti bahwa apa yang terjadi di sini tidak benar, tetapi rasanya karena terlalu berat sebelah jadi malah saya ragukan kebenarannya. Apalagi dari awal Fadli Zon sendiri sudah menegaskan posisinya sebagai orang yang mengklarifikasi tulisan dari Wiranto, yang dalam buku ini terasa sekali ditempatkan dalam posisi antihero dari Prabowo. Wiranto yang digambarkan sebagai orang yang abai dan tidak memiliki banyak relasi yang baik dalam ketentaraan. Sedangkan Prabowo digambarkan sebagai seorang yang sangat taat konstitusi dan posisinya kala itu sebagai Pangkostrad juga tidak memungkinkannya untuk menggerakkan pasukan sama sekali. Ya mungkin memang benar seperti itu.
Hanya saja, saya melihat lagi siapa Fadli Zon dan kapan buku ini ditulis dan diterbitkan. Buku ini sendiri diterbitkan pada April 2004 dan pada Juli tahun yang sama akan diadakan pemilu presiden di mana Wiranto juga akan mencalonkan diri sebagai calon dari Golkar bersama dengan Salahudin Wahid sebagai calon wakil presidennya. Fadli Zon sendiri dalam pengantarnya untuk edisi cetakan IV juga menyadari bahwa buku ini juga dicap oleh Wiranto dan pihak yang mendukungnya sebagai buku yang tendensius dan berusaha menjegal pencalonan Wiranto sebagai presiden kala itu (Zon, 2004: x). Dan sejauh pembacaan saya mengenai buku ini, saya setuju dengan pendapat tersebut. Di luar pertantangan dan rivalitas yang terjadi antara Wiranto dan Prabowo, di luar siapa yang benar dan siapa yang salah, keberpihakan yang dimunculkan dalam buku ini membuat saya tidak bisa begitu saja menerima apa yang ada ditulisnya sebagai sebuah kebenaran—apalagi saya belum membaca sumber lain yang terkait sebagai pembanding dan saya juga belum membaca buku tulisan dari Wiranto yang menjadi alasan buku ini terbit.
Kesimpulan saya, buku ini meragukan.

Minggu, 08 Februari 2015

Indonesia dan Dunia Memandang Peristiwa 1965

Akan kuingat selalu
Ade Irma Suryani
Waktu dipeluk dipangku ibu
Dengan segala kasih
Kini ia terbaring di pangkuan Tuhan
Senang dan bahagia hatinya
Kini ia terlena tertidur terbaring
Nyenyak di pelukan Tuhannya

Lagu Ade Irma Suryani ini adalah salah satu persentuhan awal saya dengan hal-hal yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia atau PKI. Lagu yang saya pelajari saat saya duduk di Taman Kanak-Kanak. Lagu yang diajarkan dengan diiringi penjelasan mengenai siapa Ade Irma tersebut dan bagaimana PKI yang membunuh seorang anak kecil yang tidak berdosa seperti kami kala itu. Pembunuhan yang terjadi karena PKI hendak menculik ayah dari gadis kecil tersebut, Jenderal Nasution.

Selasa, 27 Januari 2015

Dunia Anna, Jostein Gaarder (agak spoiler)

Judul: Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta
Pengarang: Jostein Gaarder
Halaman: 244 halaman isi
Penerbit: PT. Mizan Pustaka
Alih Bahasa: Irwan Syahrir
ISBN: 978-979-433-842-1

2082, kurang dari 70 tahun sejak saat ini dan dunia sudah di ambang kepunahan. Pemanasan global, pemakaian dan eksploitasi bahan bakar minyak besar-besaran, dan kerusakan alam membuat punahnya keanekaragaman hayati yang saat ini masih dapat kita lihat di muka bumi ini. Nova, seorang gadis yang berusia 16 tahun merasa sangat sedih dan marah dengan semua kerusakan yang ada di bumi ini, dan ia meminta kepada Anna, nenek buyutnya, untuk mengembalikan dunia ini seperti semula, seperti ketika sang nenek masih berusia 16 tahun sama seperti dirinya.

Selasa, 13 Januari 2015

Review buku: The Silkworm, Ulat Sutera-Robert Galbraith

Judul                     : The Silkworm
Penulis                 : Robert Galbraith
Alih Bahasa         : Siska Yuanita
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Ukuran                 : 15 x 23 cm
Tebal                     : 536 halaman
ISBN                      : 978-602-03-0981-1

J.K Rowling memang selalu menarik dalam setiap tulisan-tulisan yang dihasilkannya. Salah satunya adalah buku terbarunya yang ditulisnya dengan menggunakan pseudoname Robert Galbraith ini. Rowling sendiri tampaknya memang menginginkan posisi sebagai pendatang baru lagi, alih-alih menggunakan namanya sendiri yang sudah mendunia berkat serial Harry Potter. Hal yang dia tegaskan dalam ucapan terima kasih yang ditulisnya.

Minggu, 28 Desember 2014

Finchickup: Belajar Melek Finansial

Judul buku: Finchickup: Financial Check up for Ladies
Pengarang: Farah Dini Novita
Halaman: 228 halaman isi
Penerbit: Bentang Pustaka

Uang itu selalu menjadi problem banget dalam hidup banyak orang. Banyak masalah yang timbul karena ketidakseimbangan keuangan. Baik itu kelebihan uang maupun kekurangan uang. Kalau masalah yang saya alami sampai sekarang sih, seringnya karena kurang uang. Permasalahan semua umat manusia inilah yang diangkat sama Farah Dini Novita dalam bukunya Finchickup, Financial Check up for Ladies.

Rabu, 24 September 2014

Dee, Supernova, dan Akar

Ini bukan review, curhat aja soal buku.
Dewi Lestari selalu menjadi favorit saya. Selalu. Banyak teman saya yang suka sastra nggak suka dengan Dewi Lestari karena dianggap populer dan tidak nyastra, tapi mau bagaimanapun saya tetap cinta mati sama penulis satu ini.
Kali ini saya baru selesai baca Akar. Bukan pembacaan pertama kali sih, tapi saya lupa dengan kesan pertama saya seperti apa, yang pasti saya mengalami perubahan pikiran. Dulu Akar bukan salah satu cerita favorit saya, Petir tetap menjadi sesuatu yang saya suka banget. Cerita tentang cewek nyetrum yang punya warnet itu rasanya saya banget lah—cewek Cina yang tumbuh di toko, walaupun bukan toko listrik, dan saya nggak nyetrum—Mpret dan juga komputer 17 yutanya juga membuat saya tergila-gila. Saya dulu nggak paham dengan kehidupan Bodhi dan Bong yang anti kemapanan itu.